WARKOP

Video Warkop DAR Center

REALITAS TERSEMBUNYI: Bias Kota & Tak Ramah Kantong, Kuliah Tatap Muka Tidak Cukup. Solusinya PJJ!

Hingga 2026, atau 19 tahunan menuju 100 tahun Indonesia, negeri kita masih berjibaku dengan tingginya angka penduduk usia kuliah yang tak dapat mengakses perguruan tinggi. Menurut Wakil Rektor Universitas Insan Cita Indonesia, Lely Pelitasari S., momen pandemi Covid-19 telah mengajarkan bahwa kuliah online atau pendidikan jarak jauh (PJJ) dapat dilaksanakan. Itu berkah teknologi. Memang belum sempurna, tapi menurutnya, dengan menyempurnakan teknologi PJJ serta mengubah "mindset" masyarakat, PJJ dapat menjadi solusi. PJJ membuka peluang besar menjangkau penduduk usia kuliah di pelosok negeri. Saatnya meredefinisi makna kuliah agar lebih inklusif, fleksibel, dan merata.

Roti Sehat Ramah Maag, Kisah Chef Berubah Haluan

Selalu ada waktu untuk memutuskan menekuni bisnis. Usaha roti di Pondok Ranggon, Jakarta Timur ini dirintis untuk melayani warga di sana yang kebetulan membutuhkan roti buaya. Mereka memilih adonan yang sehat sehingga penderita maag pun dapat menikmati roti produksi Jimboy Bakery. Ini dia UMKM yang tak sekadar mengutamakan kesehatan, namun juga kemasan serta branding yang modern.

REALITAS TERSEMBUNYI: 67% Usia Kuliah TIDAK Bisa Kuliah. Akses Penduduk ke PT Tertinggal Jauh!!!

Sebanyak 67% penduduk usia kuliah belum punya akses ke pendidikan tinggi. Sudah mahal, bias kota, dan tidak ramah terhadap kalangan tidak mampu, Perguruan Tinggi Negeri malah membuka jalur mandiri. Kalau kamu kuliah, itu bukan biasa—itu privilege. Apakah keistimewaan itu telah kamu manfaatkan? Lalu, apa saja yang menyebabkan penduduk Indonesia tidak dapat mengakses perguruan tinggi? Simak perbincangan dengan Wakil Rektor Universitas Insan Cita Indonesia. Ini salah satu perguruan tinggi yang men

Seru seruan Main Padel Bareng Gen Z

Di ujung bulan Ramadan lalu, Jenderal (Purn.) Prof. DR. Dudung Abdurachman bersilaturahmi ke HIPMI PT (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi). Obrolan hangat di antara mereka dilengkapi dengan main padel bareng. Ini adalah jenis olahraga yang lagi trendi, digandrungi oleh kawula muda: generasi milenial hingga Gen Z. Bagi anak-anak muda ini, main padel tak hanya olahraga, tapi juga ruang komunikasi dan mengintip peluang bisnis.

Pertaruhan Negara Melindungi Anak dari Cengkeraman Raksasa Algoritma

Mulai 28 Maret 2026, anak di bawah 16 tahun dilarang memiliki akun media sosial serta main medsos. Ini dilakukan pemerintah untuk melindungi anak dari konten-konten berbahaya di medsos. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut kebijakan ini sebagai bentuk kehadiran negara agar orangtua tidak bertarung sendirian melawan raksasa algoritma. Apakah kebijakan ini bakal efektif melindungi anak di bawah 16 tahun? Apa yang dilakukan pemerintah untuk memastikan aturan itu tidak bobol?

Kebebasan Berbicara di Medsos: Kenapa Harus Bijak? Dan Mengapa Kepakaran Harus Dihormati?

Saat ini media sosial menjadi panggung merayakan kebebasan berbicara dan berekspresi warga negara. Namun di balik manfaat, ada juga mudharatnya Mengapa kita harus bijak dalam menyampaikan pendapat? Dan mengapa kepakaran juga harus dihormati di ruang-ruang medsos?

DAR Center: Selamat Idufitri 1 Syawal 1447 H

Ucapan resmi Idulfitri dari DAR Center sebagai wujud kebersamaan, kepedulian, dan komitmen untuk terus menguatkan daya akar rakyat dalam membangun Indonesia yang maju, adil, dan berkeadaban.

Mudik Kolosal, Saat Jutaan Manusia Berbondong bondong Pulang Kampung

Saban tahun, jutaan Muslim Indonesia menempuh perjalanan jauh, bahkan lintas pulau dan negara, untuk bertemu sanak saudara, tetangga hingga teman karib di kampung. Mengapa masih "harus" mudik ketika teknologi digital makin maju? Apa yang harus disiapkan agar selamat sampai kampung halaman?

Potensi Zakat Besar Sekali, Tapi...

Indonesia adalah negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Saban tahun potensi zakat yang dapat dihimpun diprediksi mencapai ratusan triliun rupiah. Namun potensi besar itu belum sepenuhnya tergali. Di sini seruan untuk membayar zakat terasa relevan sekali.

Mengejar Lailatul Qadar, Menjadikan Solidaritas Sosial Sebagai Etos

Di tayangan ini Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., M.H. memaparkan tentang perlunya membawa nilai-nilai Ramadan, yakni empati dan solidaritas sosial sebagai etos di sebelas bulan lainnya. Umat Islam dituntut tak hanya saleh secara individu, tapi saleh secara sosial.